HIJRAH UNTUK MERUBAH KEHIDUPAN

https://chillinaris.files.wordpress.com/2010/05/2072337600_bd81ee3acd_o.jpg 
       
 Hamparan dunia yang begitu luas yang menyimpan bongkahan kehidupan yang tak terbatas, seharusnya mampu mendorong setiap orang untuk hidup berkecukupan dan sejahtera. tetapi bila kenyataan masih jauh dari yang diharapkan , itu soal lain tentu bisa terkait dengan budaya  kampung kelahiran dimana aku dilahirkan disitu aku dikuburkan,  dimana aku dibesarkan disitu aku makan dan tidur,  Bila budaya itu dipakai untuk menjalani kehidupan jaman modern itu sangat membatasi, Dunia begitu luas tanpa batas terhampar tanpa kamar, terbentang tanpa perintang kenapa mesti takut

Firman Allah (Surat an-Nisa 97-100)
97. Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”.  Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali,
98. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),
99. mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya.  Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
100. Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Secara Bahasa, hijrah berarti Al Tarku yang artinya meninggalkan, baik meninggalkan tempat maupun sesuatu yang tidak baik. Dalam syari’at Islam, hijrah diartikan meninggalkan Negeri Kafir menuju Negeri Islam karena takut fitnah. Fitnah disini maksudnya adalah bahaya yang dapat mengancam fisik dan keimanan seorang muslim, baik secara pribadi maupun kelompok.
Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, kita kenal ada dua macam hijrah. Pertama, hijrah ke Habsyah yang bertujuan sebagai perlindungan. Artinya, orang-orang yang melakukan hijrah pada umumnya adalah orang-orang lemah yang patut mendapatkan perlindungan, sementara orang-orang kuat justru dilarang ikut berhijrah. Oleh sebab itu, hijrah ini bersifat sementara. Kedua, hijrah ke Madinah yang bertujuan untuk melakukan mobilisasi umat dalam rangka meletakkan basis kekuatan dan menegakkan Daulah. Berbeda dengan hijrah ke Habsyah yang pada umumnya dilakukan oleh orang-orang lemah, hijrah ke Madinah ini justru dilakukan oleh orang-orang kuat. Karena itu, hijrah ke Madinah merupakan suatu keharusan bagi setiap Mukmin. Hanya orang lemah, anak-anak, wanita dan orang-orang tua diizinkan untuk tidak berhijrah, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa Ayat 97-98.  Baik Hijrah ke Habasyah maupun hijrah ke Madinah dalam terminologi Islam disebut hijrah makaniyah (hijrah tempat).
Selain pengertian diatas, dalam terminologi Islam, Hijrah juga mempunyai arti meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda (yang artinya): “Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah”. [HR. Bukhari dan Muslim]. Meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah bisa berarti perpindahan seorang muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada tauhid, dari nifaq kepada istiqomah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal. Dengan kata lain, perpindahan total seorang muslim dari kehidupan yang serba Jahili menuju kehidupan yang serba Islami.
Hijrah dalam pengertian ini disebut hijrah maknawiyah (hijrah mental) atau bisa juga disebut hijrah qalbiyah (hijrah hati). Hijrah maknawiyah bersifat mutlak, dan kemutlakannya berlaku bagi setiap muslim. Artinya, setiap muslim mesti melakukan hijrah maknawiyah ini. Karena menjadi pribadi muslim yang kaaffah (seorang yang hanya mengabdi kepada Allah secara totalitas) harus didahului dengan hijrah ini. Hijrah ini merupakan awal mula terangkatnya kehidupan manusia dari kegelapan menuju cahaya islam, tuntutan Allah kepada Umat Islam agar bisa keluar secara total dari dominasi pengabdian terhadap syaitan dengan segala bentuk dan manifestasinya menuju pengabdian hanya kepada Allah. Dalam kondisi sekarang ini, di mana kita hidup dilingkungan masyarakat yang pola kehidupannya banyak yang jauh dari nilai-nilai Islam, hijrah maknawiyah merupakan suatu keharusan. Dengan demikian, walaupun secara fisik seorang tetap berada dilingkungannya, namun secara maknawi ia meninggalkan seluruh pola kehidupan lingkungannya.
Pengertian ini yang dikenal dengan istilah “Yakhtalithuun walaakin yatamayyazuun” (bercampur tapi tetap berbeda), ia tetap dalam kepribadian muslimnya tanpa harus larut dalam nilai-nilai sekelilingnya. Inilah yang dipesankan Rasulullah: “Janganlah kamu menjadi orang yang mengekor (selalu mengikuti orang lain). Kamu mengatakan: jika mereka berbuat baik, kami pun berbuat baik. Dan jika mereka berbuat dzalim, kami pun berbuat dzalim. Tapi perkokohlah dirimu! Jika orang-orang berbuat baik, hendaknya kamu berbuat baik. Tetapi jika mereka berbuat jahat, janganlah kamu berbuat dzalim.” [HR.Tirmidzi]
Dari pembahasan diatas, menjadi jelas bahwa hakikat hijrah baik makaniyah maupun maknawiyah itu sebenarnya adalah komitmen pada ketentuan Allah dengan meninggalkan segala bentuk sikap dan perilaku yang tidak menunujukan ketaatan kepada Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Apabila engkau mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah.” [HR.Ahmad dan Bazzar]. Dalam hadits lain disebutkan: “Apabila engkau meninggalkan perbuatan keji, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah.” [HR. Ahmad dan Bazzar]
Karena hakikat hijrah adalah melaksanakan perintah Allah dengan meninggalkan kemalasan dan kedurhakaan kepada-Nya, serta meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan meninggalkan segala bentuk kesukaan atau kecintaan pada kemaksiatan, maka hijrah itu harus dilakukan sepanjang perjalanan hidup kita sebagai muslim. Kesemuanya ini tentu saja menuntut kesungguhan. Karena itu, iman, hijrah, dan jihad merupakan kunci bagi manusia untuk meraih derajat yang tinggi dan kemenangan dalam melawan musuh-musuh kebenaran. Allah berfirman (yang artinya): “Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” [QS. At Taubah: 20]

Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita prinsip Hijrah yang pada dasarnya bertujuan untuk kebaikan dunia dan akhirat kita, sebagaimana yang dijelaskan dalam berbagai ayat Al-Qur’an sebelumnya. Apakah Hijrah yang terkait dengan keharusan meninggalkan kampung halaman ke kawasan bumi lain demi menyelamatkan keimanan dan ajaran Islam sebagaimana yang dilakukan Rasul Saw. dan para Sahabat beliau ketika mereka Hijrah ke Etiopia (Afrika), ke Thaif atau ke Al-Madinah Al-Munawwarah yang sebelumnya bernama Yatsrib, ataupun Hijrah yang terkait dengan situasi, kondisi dan keadaan, seperti Hijrah dari jahiliyah kepada Islam, dari syirik dan khurafat kepada iman dan tauhid, dari kebodohan kepada ilmu, dari kemiskinan kepada kecukupan, dari kerakusan dan ketamakan kepada qana’ah (merasa puas), dari kemungkaran kepada ma’ruf, dari maksiat kepada ketaatan, dari kemalasan kepada kesungguhan, dari kesombongan kepada tawadhu’ (kerendahan hati), dari egois kepada empati, dari pelit kepada pemurah dan dermawan, dari cinta dunia kepada cinta akhirat dan seterusnya.
Dalam kondisi negeri yang tidak menentu seperti sekarang ini, dalam kondisi umat kita yang terpuruk dalam berbagai lapangan kehidupan seperti saat ini, khususnya keterpurukan keimanan, akhlak, pendidikan dan ilmu pengtahuan serta ekonomi, dalam situasi jahiliyah yang mendominasi sistem dan gaya kehidupan (life style) umat dan negeri kita seperti sekarang ini, dalam kondisi di mana kemungkaran dan maksiat merajalela di negeri ini sebagai akibat sistem jahiliyah yang diterapkan, dan dalam kondisi penjajahan modern dan dominasi asing dalam berbagai lapangan kehidupan Negara da umat kita saat ini, maka HIJRAH mutlak diperlukan.
Sebab itu, Hijrah mesti kita lakukan sekarang juga dan tidak boleh ditunda barang sedikitpun. Kalau tidak, kita tidak akan beranjak dari situasi dan kondisi yang ada sekarang. Kalau kita tidak Hijrah sekarang, maka generasi setelah kita nanti tidak akan keluar dari situasi dan kondisi buruk yang kita hadapi saat ini dan mungkin lebih buruk lagi.
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.