ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL' ALAMIN


Islam memiliki makna yang begitu indah, Yaslama, yuslimu, islaman yang berarti damai, tentram, sejahtera, patuh, taat dsb. Islam adalah agama kedamaian yang terus memompakan semangat perdamaian dan kesetaraan hidup tanpa memandang suku, bangsa bahasa warna kulit, gender dan cirri-ciri lain yang beraroma sektarianisme, atau primordialisme. Islam agama yang memiliki ajaran yang universal.

          Dalam Islam, konsep manusia terbaik –seperti yang disabdakan oleh Rasulullah adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya, bukan manusia yang hidup untuk diri sendiri dan melakukan pengrusakan di bumi. Islam juga mengajarkan perdamaian (ifsya’ al-salam), membantu orang yang membutuhkan (itham al-masakin), dan menjaga lingkungan (hifd al-bi’ah). Allah SWT befirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan berharap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-A’raf: 56).

Oleh karena itu islam dinyatakan sebagai agama Rahmatan lil’ alamin, berkah,  rahmat, kekuatan  dan hikmah bagi umat sejagad.

Munculnya fenomena Islam-fobia di beberapa kalangan sesungguhnya diakibatkan karena minimnya pengetahuan dan dangkalnya pemahaman mereka tentang Islam. Mereka tidak memahami bahwa Islam itu bukan agama yang statis (jumud) dan bahwa hidup berislam bukan berarti kembali ke model kehidupan abad pertengahan. Begitu pula menjadi Islam tidak berarti melepaskan jati diri atau memusnahkan tradisi-tradisi yang telah mapan, wajah islam dilukiskan dengan wajah Radikalisme, Sektarianisme, Sukuisme

Sejarah telah membuktikan bahwa agama tidak disebarkan dengan cara kekerasan. Demikian juga dengan Islam. Ia tidak disebarkan dengan cara menghunus pedang, melainkan murni dengan jalan dakwah. Dakwah itulah yang membuat bangsa-bangsa penakluk bangsa Arab sepeti Turki dan Mongol akhirnya memeluk Islam. Al-Qur’an tersebar hingga India, sebuah bangsa yang hanya menjadi persinggahan saja bagi orang-orang Arab. Demikian pula Islam tersebar di Cina, sebuah bangsa yang jengkal tanahnya sama sekali tidak pernah diduduki bangsa Arab

Islam adalah agama pemikiran dan peradaban yang tinggi. Ia tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Masyarakat Muslim tidak pernah mengalami kebuntuan akal, kebekuan pemikiran, kekeringan spiritual atau memusuhi ilmuwan sebagaimana pernah dialami masyarakat Eropa. Sejarah mencatat, terdapat sekitar 32 ribu ilmuwan yang dibakar hidup-hidup di Eropa! Hal seperti itu tak pernah terjadi dalam sejarah Islam. Islam tidak pernah menghambat kebebasan berpikir atau bertindak keji terhadap para ilmuwan. Bahkan pada saat Eropa berada pada zaman kegelapan itu, Islam menjadi satu-satunya kutub ilmu pengetahuan. Belum pernah terjadi dalam sejarah, agama yang menyatu dengan kekuasaan dapat memberikan kebebasan kepada para pemeluk agama lain

Sebagaimana yang telah kami sampaikan tadi, bahwasanya Islam sebagai rahmat Allah bukanlah maknanya berkasih sayang kepada pelaku kemungkaran serta membiarkan mereka terus melakukannya. Melainkan Sebagaimana dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya tadi bahwa: “Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan. dan inilah bentuk Rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya.


Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.