HEMAT BIAYA MENYAMBUT HARI RAYA





Hematlah dalam mengeluarkan uang anda,  dan cerdaslah dalam mengelola keuangan anda, Berlalunya hari  tidak terasa dengan kegiatan sehari-hari yang kalau diperhatikan semakin lama semakin menyita waktu saja. Tanpa terasa, puasa yang dijalani dalam sehari sudah berakhir di adzan maghrib, padahal Anda masih ingat betul obrolan ringan bersama keluarga pada saat sahur yang rasanya baru beberapa jam berlalu. Sibuknya kegiatan sehari-hari jangan sampai membuat kita lupa waktu yang terus berlalu
Budaya kita Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kehidupan yang beragam. Alam berkembang sangat pesat hingga ke akar kehidupan masyarakat. Tidak pas rasanya bila merayakan lebaran tidak bersama dengan keluarga sanak family dan handai tolan di kampong halaman. Memang agama juga menganjurkan demikian, untuk bersilaturahmi dengan sanak famili, tetangga maupun kerabat dengan harapan semua dosa-dosa yang telah lalu dapat terhapuskan kembali menjadi suci ibarat bayi yang baru lahir. Kembali kepada Fitri
Satu kebiasaan yang masih dengan eratnya melekat dalam jiwa masyarakat Indonesia ketika lebaran adalah memberikan membagi bagikan uang, Warga masyarakat yang pulang ke kampung masing-masing biasanya telah mempersiapkan jauh hari sebelum hari H. Jumlah uang yang diberikan bervariasi. Rasanya smemang sangat menyenangkan ketika kita memberikan uang kepada orang lain. Apalagi pihak yang menerimanya, sudah barang pasti lebih menyenangkan, Hingga bagi  beberpa golongan anak, momen ini dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan.
Ini memang bagi kita yang keuanganya pas pasan membuat bingung dan bagaimana mengoptimalkan keuangan supaya semuanya bisa teratasi hal ini kalau tidak dipersiapkan bisa membuat kita kelabakan dalam mengatur masalah keuangan, oleh karena itu coba perhatikan beberapa hal yang harus di utamakan :
Menyusun Rencana Pengeluaran
Buat daftar semua pengeluaran dengan dana yang dibutuhkan untuk masing – masing pengeluaran tersebut.
Sebisa mungkin, semua pengeluaran dicatat, jangan sampai ada yang kelewat, terutama pengeluaran utama yang menghabiskan biaya besar.
Semakin detil dan komprehensif catatan kita, semakin baik. Jadinya lebih akurat menggambarkan pola pengeluaran.
Membuat Prioritas Pengeluaran
Tidak semua pengeluaran penting. Ada yang penting tapi banyak pula yang sekunder atau bahkan tersier. Pisahkan yang utama dan penting dengan yang nice to have dan paling mudah dikurangi ketika situasi keuangan menuntut.
Nah, yang paling tahu soal prioritas ini ya kita sendiri. Atau keluarga kita. Jangan sampai menentukan prioritas dipengaruhi atau bahkan di drive oleh orang lain. Itu akan menyulitkan kita nantinya.
Sebaiknya punya alasan yang kuat dalam menentukan prioritas sebuah pengaluran. Sehingga, saat nanti ‘digoyang’ oleh tuntutan situasi, kita cukup kuat mempertahankan prioritas yang sudah dibuat.
Memutuskan Anggaran Lebaran
Berdasarkan rencana pengeluaran yang sudah dibuat, kita membandingkan rencana pengeluaran dengan pendapatan. Cukup tidak, pendapatan untuk membiayai rencana pengeluaran yang sudah disusun.
Jika pendapatan cukup, itu sangat menyenangkan. Tidak perlu memangkas apa – apa.
Yang jadi soal, pendapatan seringkali tidak cukup. Rencana pengeluaran biasanya jauh lebih besar dibandingkan pendapatan. Ada gap antara keinginan dan kenyataan. Kalau begitu, perlu memangkas pengeluaran.
Memangkas  pengeluaran dilakukan berdasarkan prioritas yang sudah dibuat diawal.
Alhasil, kita sudah membuat anggaran atau rencana pengeluaran yang disesuaikan dengan pendapatan. Diatas kertas, sudah ada rencana anggaran yang secara keuangan sehat (tidak lebih besar pengeluaran dari pendapatan) dan dibuat berdasarkan prioritas yang mencerminkan kepentingan dan urgensi kita.
Mengeksekusi anggaran yang sudah disusun
Ini yang paling sulit. Ketika  Lebaran datang, kita harus memangkas pengeluaran dan disipilin dengan anggaran yang sudah dibuat. Banyak  yang gagal disini karena memang tidak mudah mengubah gaya hidup. Ribuan alasan dibuat untuk menjustifikasi pengeluaran yang ada.
Saya pun beberapa kali gagal. Tidak bisa mematuhi anggaran yang sudah dibuat.
Kuncinya apa? Kuncinya terletak di bagaimana kita sepakat dengan prioritas yang sudah dibuat. Makanya, saat menyusun prioritas harus melibatkan anggota keluarga. Sehingga, saat pengeluaran dikurangi, anggota keluarga paham alasannya dan karena itu mensupport.
Banyak yang tidak pernah melakukan exercise ini saat menghadapi Lebaran. Tidak pernah menghitung berapa sebenarnya pengeluaran, tidak tahu bagaimana pola pengeluaran, dan tidak menentukan mana yang penting dan mana yang tidak penting.
Yang terjadi, pokoknya mumpung Lebaran, konsumsi digenjot habis. Ketika kebutuhan datang, semuanya dinikmati dan tidak dipilah dulu mana yang utama dan mana yang sekunder. Akibatnya, sangat wajar, pendapatan menjadi tidak cukup.
Semoga anda bisa  mengelola keuangan keluarga dengan lebih baik, salah satunya, dengan melakukan langkah – langkah ini sehingga tidak menghadapi masalah keuangan setelah hari raya berakhir.
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.