Terimalah pemberian dari Allah Swt


Kehidupan merupakan nikmat yang diberikan Allah. Meskipun kehidupan tidak selalu indah bagi yang tidak dapat merasakan nikmat-Nya.
Kita sebagai manusia harus menerima dan mengakui bahwa segala nikmat yang kita dapatkan pada hakikatnya adalah berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala semata. Adapun peran manusia yang memberikan suatu kemanfaatan kepada sesama, semua itu hanyalah suatu sebab dan perantara yang mana semuanya itu sangat bergantung kepada izin dari Allah ta’ala

Di berikan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain adalah bentuk menerima nikmat ilmu. Menafkahkan harta di jalan Allah adalah bentuk menerima nikmat harta. Mengonsumsi makanan untuk menyehatkan tubuh dan tidak membuangnya adalah bentuk menerima nikmat makanan. Termasuk suatu masalah yang sedang kita hadapi walaupun itu kelihatan tidak baik pasti selama kita mau menerimanya pasti akan berakhir baik,  Demikianlah seterusnya. Kita memohon taufiq kepada Allah ta’ala untuk dapat senantiasa bersyukur atas segala pemberian-Nya dan mengampuni segala kekurangan kita

Maksud ungkapan diatas ialah bahwa Anda harus menerima semua pemberiaan Allah dengan senang hati ( qana’ah ) baik itu poster tubuh, harta,anak, tempat tinggal, ataupun kecerdasan. Inilah yang tertuang dalam salah satu ayat Al-Quran;
’’ Sebab itu berpegang teguhlah kepeda apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersukur’’ ( Qs, Al-A’rap (7):144).
Mayoritas ulama salaf dan kebanyakan sahabat pada generasi pertama hidup dalam kefakiran. Mereka tidak memiliki materi, tempat tinggal mewah, kendaraan, maupun pelayan. Kendati demikian. Mereka dapat menapaki kehidupan serta membahagiakan diri sendiri dan orang lain karena mereka mendapatkan kebaikan yang diberikan Allah dijalan-Nya yang benar.

Umur waktu dan anugrah mereka penuh berkah, Berbeda dengan kelompok orang yang penuh berkah ini, ada sekelompok orang yang diberi harta, anak dan nikmat, namun yang menjadi sebab kebinasaan dan penderitaan mereka hanyalah karena berpaling dari fitrah yang lurus dan jalan hidup ( manhaj ) Inilah bukti kongkrit bahwa hal-hal ini bukanlah apa-apa. Perhatikanlah orang yang membawa ijasah kesarjanaan, namun mereka tetap bodoh, tidak dapat melakukan apa-apa. Di bagian lain Anda akan menemukan orang yang memiliki ilmu pas-pasan. Namun, dari ilmu yang serba terbatas ini mereka dapat membuat sungai yang mengalir deras membawa kemanfaatan, kedamaian, dan kemakmuran. Kalau Anda ingin hidup bahagia, maka terimalah bentuk diri Anda yang telah ditetapkan Allah untuk Anda dengan lapang dada, terimalah posisi dan suara Anda, terimalah daya pikir dan kelemahan Anda dengan senang hati.

Bahkan, sebagian pendidik yang berjiwa zuhud memilih yang lebih jauh dari hal itu.  Mereka berkata’’ Terimalah dengan senang hati apa yang lebih sedikit dari pada yang Anda miliki dan yang lebih rendah dari pada yang Anda tempati.’’  Kebahagiaan yangterbesar adalah Ketika kau menjadi orang berakal Kau di anugrahi kondisi yang kau hidupinAda sederet daftar mengagumkan yang di penuhi orang-orang yang mengurangi bagian mereka di dunia, misalnya; Atha’ bin Rabah,  seorang yang sangat pandai dalam urusan ilmu dunia pada masanya. Dia hanyalah seorang budak yang hitam berhidung pesek, lumpuh, dan berambut keriting. Al-Ahnaf binQais, orang paling pemurah di kalangan seluruh orang arab. Tubuhnya kurus kerempeng, punggungnya bongkok, kakinya bengkok, dan tubuhnya lemah, Muhdits ad-Dunya yang termasuk budak sahaya, lemah matanya, bertangan cacat, berbaju rombeng, berbadan sayu, dan berpenyakit. Bahkan para nabi yang mulia dulunya adalah para penggembala kambing. Nabi Dawud hanyalah seorang tukang besi Nabi zakaria seorang tukang kayu, Nabi Idris seorang tukang penjahit. Kendati demikian, mereka adalah manusia pilihan dan terbaik , Jadi nilai diri Anda terletak pada ilmu, amal shaleh, kemanfaatan, perilaku Anda . janganlah Anda merasa risau dengan kecantikan, harta, anak yang tidak miliki , Terimalah pemberian Allah dengan lapang dada.’’ Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.’’

Dan pemberian Allah ta’alla  yang tak ternilai yang melekat dalam diri seseorang itu adalah nikmat akhlak , dan ingatlah Lidah berguna untuk menyampaikan kebenaran Allah,  bukan untuk mencederai kebenaran. Barangsiapa yang mencederai kebenaran berarti ia telah lalai atas pemberian Nya. 
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.