Makna tahun baru Islam


Dengan Ridhonya - Penyambutan tahun baru Islam 1 Muharam  tidak selayaknya seperti yang dilakukan orang-orang non Muslim saat merayakan tahun baru Masehi, tetapi merayakannya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan, kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru Hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita sudah tidak ada?.
Berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya (HR Ahmad)
Dalam menyambut tahun baru Hijriah, sangat penting bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat dan dosa atau maksiat yang telah kita kerjakan. Penilaian ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan amal atau dosa kita, tapi agar tahun mendatang lebih baik dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh serta mengurangi perbuatan dosa dan amal salah.

Ketika kita berbicara tentang Muharram, tentang peristiwa hijrah, atau tentang tahun baru Islam, rasanya tidak ada sesuatu lagi yang baru bagi kita. Karena setiap tahun kita sudah sangat mengenal dan mengetahui ihwal bulan pertama dalam kalender Islam tersebut, kami hanya ingin sedikit mengingatkan kembali peristiwa yang amat penting dalam perjalanan sejarah Islam itu, sembari menyelami lebih jauh tentang hakikat dan hikmah-hikmah yang bisa kita petik di dalamnya.

Sejarah telah mencatat, bahwa orang pertama yang mengkristalisir hijrah Nabi sebagai peristiwa amat penting dalam sistem kalender umat Islam adalah Umar bin Khattab RA, ketika beliau menjabat sebagai Khalifah ke-2 menggantikan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-17 sejak hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

Sungguh pun demikian, Sayidina Umar bukanlah orang yang memaksakan pendapatnya sendiri kepada para sahabat Nabi yang lain. Beliau adalah orang yang selalu memusyawarahkan terlebih dulu setiap problematika umat dengan para sahabat Nabi, termasuk dalam merumuskan sistem kalender Islam. Karenanya, beberapa pendapat pun saat itu bermunculan. Ada yang berpendapat, bahwa tapak tilas sistem penanggalan Islam sebaiknya berpijak pada tahun kelahiran Rasulullah. Ada juga yang mengusulkan, bahwa awal diangkatnya Rasulullah SAW sebagai utusan Allah merupakan timing/waktu yang paling tepat dalam penentuan standar kalenderisasi Islam. Bahkan, ada pula yang melontarkan ide agar tahun wafatnya Rasulullah SAW dijadikan sebagai titik awal perhitungan kalender Islam.

Dari beberapa usulan tersebut, Sayidina Umar akhirnya lebih condong kepada pendapat Sayidina Ali bin Abi Thalib RA, yang meng-afdholiah-kan peristiwa hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah sebagai tonggak sejarah terpenting dalam Islam, dibanding peristiwa lainnya dalam sejarah Islam. Sebagaimana argumentasi atau alasan beliau, bahwa “kita membuat penanggalan berdasarkan pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW, adalah karena hijrah tersebut merupakan simbol pembatas antara yang hak dengan yang batil.” Peristiwa tersebut (yakni, awal penentuan kalender Islam) terjadi pada tanggal 1 Muharam, bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 16 Juli 622 M.

Jika kita mengulas sejarah, ada sesuatu yang unik dalam sistem kalenderisasi Hijriah. Karena dalam catatan sejarah, peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah sesungguhnya terjadi pada bulan Rabiul Awal, bukan pada bulan Muharram. Lalu mengapa justeru bulan Muharram yang dijadikan sebagai tonggak pertama bagi awal penanggalan Islam, bukan bulan Rabiul Awal?.

Dalam kitab-kitab Tarikh atau sejarah Islam, memang banyak dijelaskan bahwa Nabi bertolak dari Mekkah menuju Madinah terjadi pada hari Kamis terakhir di bulan Shafar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada awal bulan Rabiul Awal, bertepatan dengan hari Senin tanggal 13 September 622.

Namun demikian, Sayidina Umar beserta sahabat-sahabat Nabi yang lain saat merumuskan sistem kalender Islam lebih memilih bulan Muharram sebagai awal tahun hijriah. Ini karena, beliau memandang bahwa di bulan Muharramlah Nabi pertama kali ber’azam (merencanakan) untuk berhijrah. Karena di bulan Muharram itu Rasulullah SAW telah selesai dari seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji, juga dikarenakan bulan Muharram termasuk salah satu dari 4 bulan haram dalam Islam yang dilarang Allah untuk berperang di dalamnya. Sampai-sampai Rasulullah SAW sendiri pernah menamainya dengan sebutan “Syahrullah (Bulan Allah)”, sebagaimana diungkap dalam sabdanya:

أفضلُ الصّيام بعدَ رمضانَ شهرُ الله المُحرَّمُ

Sebaik-baik puasa di luar bulan suci Ramadhan adalah puasa di Bulan Allah, yaitu bulan Muharram”. (Hadist diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang di dalamnya tersimpan suatu kebijaksanaan sejarah (sunnatullah) agar kita senantiasa mengambil hikmah, meneladani, dan mentransformasikan nilai-nilai dan ajaran Rasulullah SAW (sunnatur-rasul). Setidaknya, ada 3 hal utama dari serangkaian peristiwa hijrah Nabi yang amat penting untuk kita transformasikan dalam konteks kekinian.

Pertama, adalah transformasi keummatan. Bahwa nilai penting atau misi utama hijrahnya Rasulullah beserta kaum muslimin adalah untuk penyelamatan nasib kemanusiaan. Betapa serangkaian peristiwa hijrah itu, selalu didahului oleh fenomena penindasan dan kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang kaya (kapitalis) dan penguasa terhadap masyarakat kecil yang lemah. Pada spektrum ini, orientasi keummatan ditujukan untuk mewujudkan suatu transformasi sosial di bidang ekonomi dan politik.
Hijrah, sebagai sunnatullah serkaligus sunnatur-rasul, dari kondisi di mana masyarakat terus mengalami ketertindasan, adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, bahwa orang yang mampu hijrah tetapi tidak melaksanakannya disebut sebagai orang yang menganiaya dirinya sendiri (zhalim). Sebab, luasnya bumi dan melimpahnya rizqi di atasnya, pada dasarnya memang disediakan oleh Allah untuk keperluan manusia. Karena itulah, jika manusia atau masyarakat mengalami ketertindasan, Allah mewajibkan mereka untuk hijrah (QS. An-Nisa (4): 97-100).

إنّ الذين توفّاهُمُ الْمَلآئكةُ ظالِمِي أنفسهِمِ قَالُوا فِيْمَ كنتم, قالوا كُنَّا مستضعفين في الأرض, قالوا أَلَمْ تَكُنْ أرضُ اللهِ واسِعَةٌ فتهاجروا فيها, فأولئك مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘dalam keadaan bagaimanakah kalian ini?’, mereka menjawab: ‘kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’, para malaikat lalu berkata: ‘bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?’, maka orang-orang itu tempatnya adalah di neraka Jahanam, dan itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali”.

إلاّ المستضعفين من الرّجالِ والنّساءِ والولدانِ لاَ يستطيعون حِيْلَةً ولا يَهْتَدُوْنَ سَبِيْلاً

“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak, yang benar-benar tidak memiliki kemampuan dan tidak mengetahui jalan untuk hijrah”.

فأولئك عسى اللهُ أنْ يَعْفُوَ عنهم وكان الله عَفُوًّا غَفُوْرًا

“Maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.

ومن يُهَاجِرْ في سبيل الله يَجِدْ في الأرض مُرَاغَمًا كَثِيْرًا وَسَعَةً, ومَنْ يَخْرُجْ مِن بيته مهاجرا إلى الله ورسوله ثمّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ على الله وكان الله غفورا رحيما

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu kematian menimpanya (sebelum ia sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah Allah tetapkan pahalan di sisi-Nya. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Tujuan dari hijrah, dalam visi al-Qur’an itu, adalah agar manusia dapat mengenyam ‘kebebasan’. Jadi tidak semata-mata perpindahan fisik dari satu daerah ke daerah yang lain, apalagi hanya sekedar untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan politik belaka, melainkan lebih dari itu, ia melibatkan hijrah mental-spiritual, sehingga mereka dapat memperoleh ‘kesadaran baru’ bagi keutuhan martabatnya. Hijrah Nabi ke Madinah, telah terbukti mampu mewujudkan suatu kepemimpinan yang di dalamnya berlangsung tatanan masyarakat berdasarkan pada moral utama (makarimal akhlaq), suasana tentram penuh persaudaraan dalam pluralitas kehidupan (ukhuwah) dan pengedepanan misi penyejahteraaan masyarakat (al-maslahatu al-ra’iyah).

Kedua, adalah transformasi kebudayaan. Hijrah dalam konteks ini telah mengentaskan masyarakat dari kebudayaan Jahili menuju kebudayaan Islami. Jika sebelum hijrah, kebebasan masyarakat dipasung oleh struktur budaya feodal dan otoritarian yang amat destruktif-permissifistik, maka setelah hijrah hak-hak asasi mereka dijamin dalam kepastian hukum dan perundang-undangan (syari’ah). Pelanggaran terhadapsyari’ah bagi seorang muslim, pada dasarnya tak lain merupakan penyangkalan terhadap keimanan atau keislamannya sendiri. Bahkan lebih dari itu, pelanggaran terhadap hak-hak asasi yang nyata-nyata telah dilindungi dan diatur dalam ajaran Islam, akan dikenai sanksi hukum yang tujuannya untuk mengembalikan keutuhan moral mereka dan martabat manusia secara universal.

Dengan demikian, hijrah pada dasarnya ditujukan untuk mengembalikan keutuhan moral dan martabat kemanusiaan secara universal (rahmatan lil-‘alamiin). Mengenai apa saja martabat kemanusiaan atau hak-hak asasi –yang merupakan pundamen utama suatu kebudayaan– yang dilindungi oleh Islam, al-Qur’an telah secara jelas menggariskan pokok-pokoknya, seperti: perlindungan fisik atau hak hidup individu dan masyarakat dari tindakan-tindakan kekerasan; perlindungan dan kebebasan memeluk keyakinan agama masing-masing tanpa paksaan untuk berpindah agama; perlindungan keluarga dan keturunan; perlindungan harta benda dan hak milik pribadi; perlindungan untuk menyatakan pendapat dan berserikat; serta perlindungan untuk mendapatkan persamaan derajat dan kemerdekaan.

Ketiga, adalah transformasi keagamaan. Transformasi inilah, yang dalam konteks hijrah, dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah. Persahabatan beliau dan persaudaraan kaum Muslim dengan Non-Muslim (Yahudi dan Nasrani), sesungguhnya adalah basis utama dari misi kerasulan yang diemban oleh Rasulullah. Dari catatan sejarah kita mengetahui, bahwa yang pertama menunjukkan sekaligus mengakui ‘tanda-tanda kerasulan’ pada diri Nabi, adalah justeru seorang pendeta Nasrani yang bertemu tatkala Nabi dan pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syria. Kemudian, pada hijrah pertama dan kedua (ke Abesinia), pun kaum Muslim ditolong oleh raja Najasy. Dan pada saat membangun kepemimpinan di Madinah, kaum Muslim bersama kaum Yahudi dan Nasrani, saling bahu-membahu dalam ikatan persaudaraan dan perjanjian. Karena itulah, pada masa kepemimpinan Nabi dan sahabat, Islam telah secara tertulis mengeluarkan undang-undang yang melindungi kaum Nasrani dan Yahudi.

Akhirnya, tanpa terasa umur kita telah bertambah satu tahun lagi. Itu berarti jatah hidup kita berkurang dan semakin mendekatkan kita kepada rumah masa depan, yakni kuburan. Pelajaran yang terbaik dari perjalanan waktu ini adalah menyadari sekaligus mengintrospeksi sepak terjang kita selama ini. Kita sejatinya hanya punya waktu 5 hari yang harus kita isi dengan amal kebaikan. 

Hari pertama, yaitu masa lalu yang telah kita lewati (apakah sudah kita isi dengan hal-hal yang dapat mengantarkan kita pada ridho Allah?). 

Hari kedua, yaitu hari yang sedang kita alami sekarang ini (harus kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat baik dunia maupun akhirat).

Hari ketiga, yaitu hari yang akan datang (kita tidak tahu apakah hari itu milik kita atau bukan). 

Hari keempatyaitu hari ketika nyawa kita ditarik oleh Malaikat pencabut nyawa menyudahi kehidupan kita di alam fana ini (apakah kita sudah siap dengan amal kita?).

Hari kelima,yaitu hari perhitungan amal kita di hadapan Allah (apakah kelak kita akan mendapatkan raport yang baik yang akan menempatkan kita di surga, ataukah mendapat raport dengan tangan kiri kita, yang menunjukan nilai buruk dan menempatkan kita di neraka). Pada saat itu, tidak ada lagi arti penyesalan.

Maka, tepat sekali apa yang dikatakan seorang ulama besar Tabi’in, Imam Hasan Al-Basri, “Wahai manusia, sesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari. Jika setiap hari itu berkurang, maka berkurang pula bagianmu.

Beberapa Amalan yang Dilakukan di Bulan Muharram
1. Perbanyak Amalan Shalih dan Jauhi Maksiat
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang tafsir firman Allah Ta’ala dalam Surat At Taubah ayat 36: “…maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian…”; Allah telah mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai bulan yang suci, mengagungkan kemulian-kemuliannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar) dengan amalan-amalan shalih.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir)
Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan selainnya, hendaknya kita perbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini dengan membaca Al Qur’an, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.
Selain memperbanyak amalan ketaatan, tak lupa untuk berusaha menjauhi maksiat kepada Allah dikarenakan dosa pada bulan-bulan haram lebih besar dibanding dengan dosa-dosa selain bulanharam.
Qotadah rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah Ta’alamenjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.”
2. Perbanyaklah Puasa
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Para salaf pun sampai-sampai sangat suka untuk melakukan amalan dengan berpuasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Lathaa-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab)
3. Puasa ‘Asyuro (Tanggal 10 Muharram)
Para pembaca yang dirahmati Allah, hari ‘Asyuro merupakan hari yang sangat dijaga keutamannya oleh Rasulullah, sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam begitu menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari ‘Asyuro) dan bulan yang ini (yaitu bulan Ramadhan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu bentuk menjaga keutamaan hari ‘Asyuro adalah dengan berpuasa pada hari tersebut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyuro, mereka mengatakan, “Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah” (HR. Bukhari)
Rasulullah menyebutkan pahala bagi orang yang melaksanakan puasa sunnah ‘Asyuro, sebagaiamana riwayat dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyuro, kemudian beliau menjawab, “Puasa Asyuro menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat” (HR. Muslim)
4. Selisihi Orang Yahudi dengan Puasa Tasu’a (Tanggal 9 Muharram)
Setahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau berrtekad untuk tidak berpuasa hari‘Asyuro (tanggal 10 Muharram) saja, tetapi beliau menambahkan puasa pada hari sebelumnya yaitu puasa Tasu’a (tanggal 9 Muharram) dalam rangka menyelisihi puasanya orang Yahudi Ahli Kitab.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau mengatakan, Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyuro dan menganjurkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (Tasu’a, untuk menyelisihi Ahli kitab)”. Ibnu ‘Abbas berkata, “Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”
Sebagian ulama ada yang berpendapat di-makruh-kannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi. Tapi ada ulama lain yang membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram). (Asy Syarhul Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin)
5. Muhasabah dan Introspeksi Diri
Hari berganti dengan hari dan bulan pun silih berganti dengan bulan. Tidak terasa pergantian tahun sudah kita jumpai lagi, rasa-rasanya sangat cepat waktu telah berlalu. Semakin bertambahnya waktu, maka semakin bertambah pula usia kita. Perlu kita sadari, bertambahnya usia akan mendekatkan kita dengan kematian dan alam akhirat.
Sebuah pertanyaan besar, “Semakin bertambah usia kita, apakah amal kita bertambah atau malah dosakah yang bertambah??!” Maka pertanyaan ini hendaknya kita jadikan alat untuk muhasabah dan introspeksi diri kita masing-masing. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masa hidupku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”
Wahai saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menuju perjalanan yang panjang di akhirat kelak dengan amalan-amalan shalih? Sudahkah kita siap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah kita perbuat di hadapan Allah kelak? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan setiap diri hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al Hasyr: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Yaitu, hendaklah kalian menghitung-hitung diri kalian sebelum kalian di-hisab (pada hari kiamat), dan perhatikanlah apa yang telah kalian persiapkan berupa amal kebaikan sebagai bekal kembali dan menghadap kepada Rabb kalian.”

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk tetap teguh berada di atas jalan kebenaran-Nya, bersegera untuk melakukan instrospeksi diri sebelum datang hari di-hisab-nya semua amalan, dan menjauhkan dari perbuatan maksiat yang bisa membuat noda hitam di hati kita. Wallahu Ta’ala a’lam.
Baca juga : Keberkahan dan Amalan Bulan Muharram klik disini


Di Doakan Secara Khusus Untuk Menyelsaikan Masalah anda KlikDisini
Tasbih Laduni Klik Disini   
Cara Meraih Kesuksesan dalam Kerejekian   Klik disini  
Ijazah Hizib Para Wali  Klik Disini  
20 Manfaat dari Infak dan Sedekah  Klik Disini 


Penyaluran Zakat, Infaq dan Shodaqoh  Klik disini    


Anda yang Mau Bergabung bersama kami dengan yang lainya Menjadi Santriwan Santriwati secara Online di AL-HIKMAH NURIMANI
MERAIH KUNCI SUKSES DUNIA & AKHIRAT
“Barang siapa yang berjalan menuju Allah, Maka Allah akan berlari menuju dia. Siapa yang berlari menuju Allah, maka Allah akan melompat dan memelukNya”
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.