Syukur Ciptakan Kebahagian


Dengan Ridhonya - Syukur adalah ibadah yang tidak akan pernah sampai pada puncaknya. Antara lain karena setiap ungkapan syukur adalah sesuatu yang harus disyukuri pula, karena taufik dan kemampuan yang diberikan-Nya lah kita dapat melakukannya.
Konsep Al-Quran mengatakan bahwa setiap perbuatan itu akan kembali kepada diri pelakunya sendiri. Allah tidak membutuhkan perbuatan baik kita, tapi kitalah yang membutuhkannya. Seperti dalam ayat  “In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum fa laha”  (jika kalian berbuat baik sejatinya itu perbuatan baik untuk diri kalian sendiri,  juga dengan perbuatan buruk akan kembali kepada pelakunya sendiri).
Demikian juga dengan bersyukur. Allah tidak membutuhkan syukur kita, tapi kitalah yang membutuhkan syukur itu untuk diri kita sendiri. Jika seluruh makhluq kufur pun, tidak akan mengurangi kekuasan dan kekayaan Allah SWT.
Akhir-akhir ini banyak orang, atau mungkin bahkan kita sendiri masih salah dalam mengukur sebuah kebahagiaan. Masih banyak diantara kita yang salah dalam mendefinisikan sebuah kebahagiaan. Ada yang mengukur kebahagiaan itu dengan materi, padahal betapa banyak contoh orang yang bergelimang materi, tapi sedikit pun tidak merasakan kebahagiaan dalam dirinya. Ada yang mengukur kebahagiaan, dengan jabatan, padahal betapa banyak contoh orang yang sudah mencapai jabatan yang begitu tinggi, tapi justru kesusahan yang dia rasakan. 

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberikan pencerahan pada kita dengan sabdanya : “Yang dinamakan kaya bukanlah orang yang bergelimang harta, tetapi yang disebut kaya adalah mereka yang punya kelapangan jiwanya). Inilah ukuran bahagia”. 

Ketika seseorang sudah mempunyai kelapangan diri, maka implikasinya adalah dia akan mudah mensyukuri nikmat yang diberikan Allah pada kita. Rasanya kita malu, karena berulang kali Allah telah menyindir kita dalam al-Quran qaliilam maa taskurun (sedikit sekali bersyukur kepada Allah) bahkan berulang kali Allah berfirman fabiayyi alaai robbikuma tukadzibaan (maka nikmat Allah manakah yang kau dustai). Ini seolah-olah sindiran bagi kita, karena memang banyak diantara kita yang kurang mensyukuri nikmat Allah. Tiap hari kita merasakan nikmat nikmat Allah, setiap saat, tiap jam, tiap menit, tiap detik, kita menggunakan fasilitas Allah, tapi kita suka melalaikan perintah Allah. Dan ini bagian dari kurang bersyukur. Ada satu ayat yang mungkin sering kita dengar, yang sering masuk ke telinga kita tapi susah kita praktekkan atau mungkin kita salah dalam memahaminya. (Q.S. Ibrahim [14] :7) “dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". 

Ayat ini sering kita dengar, tetapi susah kita praktekkan atau mungkin kita salah dalam memahami arti syukur itu. Jikalau kalian mensyukuri nikmat yang Aku berikan, maka sungguh Aku tambah nikmat itu. Secara tata bahasa Arab, lam dan nun nya taukid, artinya menegaskan, menguatkan dan mengukuhkan, sungguh-sungguh Aku tambah nikmat itu. Tapi sebaliknya, Jika kamu mengkufuri nikmat Allah, Allah memberikan warning kepada kita, awas hati-hati, AdzabKu sangat pedih. 

Banyak orang yang sudah mempraktekkan syukur, tapi kadang-kadang hanya sebatas ucapan Alhamdulillah atau mungkin hanya sekedar syukuran. Syukur dengan syukuran belum tentu sama. Menurut para mufassir syukur makna yang sebenarnya adalah menggunakan nikmat Allah di jalan yang benar. Kalau kita mendapatkan sebuah jabatan, cara mensyukurinya adalah kita gunakan jabatan itu di jalan yang benar. Kita mampu membeli mobil, maka cara syukurnya adalah digunakan mobil itu di jalan yang benar. Diberi kesehatan oleh Allah, cara syukur yang paling tepat adalah digunakan kesehatan kisah di jalan yang benar. Ini syukur yang mestinya kita lakukan, bukan sekedar ucapan Alhamdulillah bukan sekedar syukuran. Bukan berarti tidak boleh syukuran, boleh bahkan sunah, tetapi jangan sampai semua itu menghilangkan hakikat dari syukur itu sendiri yaitu kita gunakan dijalan Allah yang benar. 

Kalau kita mau bersyukur, maka dampak positif itu pun akan kembali kepada kita. Bukan kemudian Allah semakin Maha, Allah semakin hebat. Tidak. Kalau kita mau bersyukur dampak positifnya kembali kepada kita. (Q.S. An Naml [27] 40). 

Kelanjutan dari surah Ibrahim [14] :7 tersebut adalah “dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". 

Maha besar Allah, apapun yang kita lakukan sebenarnya demi kebaikan kita sendiri. Kalau kita mau mensyukuri nikmat yang diberikan Allah pada kita, maka dampak positifnya akan kembali kepada kita. Implikasi dari rasa syukur yang ada dalam diri kita, maka akan memunculkan kepedulian sosial, sehingga kita mau menyisihkan sebagian harta benda yang kita miliki. Rasanya mustahil bisa bersedekah, kalau rasa syukur dalam diri ini kurang. Ataupun dia bisa bersedekah, tapi rasa ikhlasnya yang kurang. Maka sebenarnya jika kita mempunyai rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah pada kita, maka akan memudahkan kita untuk bersedekah benar-benar ikhlas lillahi ta'ala 


RABBI AUZI’NI AN ASYKURA NI’MATAKA ALLATI  AN’AMTA ’ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHALIHAN TARDHAHU, WA ADKHILNI BIRAHMATIKA FI ’IBADIKA AS-SHALIHIN (QS. An-Naml: 19)
Artinya :
“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh“.
Berapa banyak waktu yang telah kita habiskan, berapa banyak nikmat yang telah kita terima, dan berapa banyak rasa syukur yang kita berikan padaNya?
Jalani hidup dengan bahagia yang seperlunya, bersedih dengan seperlunya, dan bersyukur sebanyak-banyaknya

Semoga kita semua dapat tergolong pada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur. Amin, Ya arham ar-Rahimin


Baca juga :
Di Doakan Secara Khusus Untuk Menyelsaikan Masalah anda KlikDisini
Tasbih Laduni Klik Disini   
Cara Meraih Kesuksesan dalam Kerejekian   Klik disini  
Ijazah Hizib Para Wali  Klik Disini  
Nama nama Ilmu Hikmah  Klik Disini  
20 Manfaat dari Infak dan Sedekah  Klik Disini 

Penyaluran Zakat, Infaq dan Shodaqoh  Klik disini    

Anda yang Mau Bergabung bersama kami dengan yang lainya Menjadi Santriwan Santriwati secara Online di AL-HIKMAH NURIMANI
MERAIH KUNCI SUKSES DUNIA & AKHIRAT
“Barang siapa yang berjalan menuju Allah, Maka Allah akan berlari menuju dia. Siapa yang berlari menuju Allah, maka Allah akan melompat dan memelukNya”
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.