Taubat yang sebenar benarnya


Dengan Ridhonya - Menurut bahasa, kata tobat berasal dari bahasa Arab, yakni taba -  yatubu – taubatan yang artinya ampunan, sedangkan menurut istilah, tobat ialah memohon ampunan kepada Allah atas perbuatan dosa yang dilakukan. Allah swt. Telah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk senantiasa bertobat dan menunjukkan tata caranya serta berjanji akan mengabulkannya.

Nabi bersabda :
Setiap anak adam yakni setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan dan sebaik baik orang yang mempunyai dosa dan kesalahan ialah orang yang segera bertoubat

Dengan kata lain
Orang yang baik sesungguhnya bukanlah orang yang tidak punya salah karena tidak ada orangnya yang tidak punya salah, tetapi orang yang baik adalah orang yang apabila melakukan kesalahan dia segera sadar dijadikanya kesalahan itu sebagai pelajaran untuk tidak diulanginya lagi pada masa masa yang akan datang

Inilah yang di gambarkan Allah Swt di dalam
Surat Al Imran 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْيَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ


Artinya :
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Apabila kita lihat ayat diatas sudah jelas dan dapat dipastikan bahwa ayat diatas mempunyai kandungan atau maksud mengenai perbuatan manusia yang melakukan dosa akan diampuni oleh Allah Swt apabila melakukan taubatan nasukha dan memohon ampun kepada Allah Swt, Karena hanya kepada Allah Swt tempat manusia memohon ampun atas segala perbuatan yang dilakukan. Bila kita lihat ayat sesudah nya maka dapat kita gabung maksud ayat tersebut adalah selain Allah Swt mengampuni dosa-dosa yang manusia lakukan juga akan membalas perbuatan manusia dengan nikmat yang luar biasa apabila manusia tersebut benar-benar taubatan nasukha dan hanya kepada Allah Swt memohon ampun.

Sejak awalnya Iblis mmg sudah meproklamirkan diri dihadapan Allah Swt

Ya Allah demi kemulianmu saya bersumpah
Saya akan selalu memperdayakan anak anak Adam , saya akan selalu menggoda manusia  selama Ruh mereka masih ada dalam jasad mereka

Jadi selama ruh masih ada dalam jasad selama itulah iblis akan selalu berusaha mengilincirkan manusia untuk jatuh ketempat salah dan dosa

Allah Swt Menjawab :
Demi kehormatanku….. Demi kemulianku…. hai Iblis
Kalaupun engkau selalu memperdayakan manusia, kalaupun engkau selalu menipu dan menggoda mereka sepanjang Ruh mereka ada didalam jasad, aku akan senatiasa memberikan ampun pada mereka sepanjang mereka memohonkan ampun kepadaku dan bertobat

Inilah jaminan dari Allah Swt
Apabila kita bicara tentang tobat artinya kita berbicara ttg tingkah laku kita dalam kehidupan kita sehari hari.

Apa yang harus kita lakukan untuk sempurnanya suatu Tobat :

1. Taubatnya tersebut dilakukannya dengan ikhlas semata karena Allah. Jadi, faktor yang mendorongnya untuk bertaubat, bukanlah karena riya’, nama baik (prestise), takut kepada makhluk ataupun mengharap suatu urusan duniawi yang ingin diraihnya. Bila dia telah berbuat ikhlas dalam taubatnya kepada Allah dan faktor yang mendorongnya adalah ketaqwaan kepada-Nya, takut akan siksaanNya serta mengharap pahalaNya, maka berarti dia telah berbuat ikhlas dalam hal tersebut.

2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. Yakni, seseorang mendapati dirinya sangat menyesal dan bersedih atas perbuatan yang telah lalu tersebut serta memandangnya sebagai perkara besar yang wajib baginya untuk melepaskan diri darinya.

3. Berhenti total dari dosa tersebut dan keinginan untuk terus melakukannya. Bila dosanya tersebut berupa tindakannya meninggalkan hal yang wajib, maka setelah taubat dia harus melakukannya dan berusaha semaksimal mungkin untuk membayarnya. Dan jika dosanya tersebut berupa tindakannya melakukan sesuatu yang diharamkan, maka dia harus cepat berhenti total dan menjauhinya. Termasuk juga, bila dosa yang dilakukan terkait dengan makhluk, maka dia harus memberikan hak-hak mereka tersebut atau meminta dihalalkan darinya.

4. Bertekad untuk tidak lagi mengulanginya di masa yang akan datang. Yakni, di dalam hatinya harus tertanam tekad yang bulat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat yang dia telah bertaubat darinya.

5. Taubat tersebut hendaklah terjadi pada waktu yang diperkenankan. Jika terjadi setelah lewat waktu yang diperkenankan tersebut, maka ia tidak diterima. Lewatnya waktu yang diperkenankan tersebut dapat bersifat umum dan dapat pula bersifat khusus. Waktu yang bersifat umum adalah saat matahari terbit dari arah terbenamnya. Maka, bertaubat setelah matahari terbit dari arah terbenamnya tidak dapat diterima.

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : (Atau) kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. ” [Al-An'am:158].

Sesungguhnya bila seseorang bertaubat dari dosa apa saja sekalipun berupa caci- maki terhadap agama, maka taubatnya diterima bilamana memenuhi persyaratan yang telah kami sebut diatas. 

Baca Juga :
Informasi Cara menghadapi Masalah hidup 
Bagaimana biar cepat Lunas Hutang 


4 Ilmu Hikmah Menggapai Hidup Berkah dan Barokah



Anda yang Mau Bergabung bersama kami dengan yang lainya Menjadi
Santriwan Santriwati secara Online di 
AL-HIKMAH NURIMANI
PUSAT PENGEMBANGAN ILMU HIKMAH
“Barang siapa yang berjalan menuju Allah, Maka Allah akan berlari menuju dia. Siapa yang berlari menuju Allah, maka Allah akan melompat dan memelukNya”
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.