Pemuda Ashabul Kahfi, Suatu pembelajaran hidup

Masa muda adalah masa di mana nafsu atau syahwat sedang menggelora sehingga tidak jarang banyak pemuda terjerumus dalam kemaksiatan. Apalagi mereka yang telah terpengaruh oleh pandangan hidup hedonis, seperti “Muda foya-foya; tua kaya raya; dan mati masuk surga”. Pandangan itu jelas keliru karena tidak logis dan tidak berdasar. Bagaimana mungkin dengan hidup foya-foya akan menjadi kaya raya di usia tua? Lalu bagaimana akan mati masuk surga dengan foya-foya di usia muda dan menumpuk harta di usia tua? Semboyan hidup ini memang keliru dan harus ditinggalkan karena tidak mendidik dan bahkan menjerumuskan. 

Namun, pemuda yang mampu mengisi hari-harinya dengan ibadah kepada Allah adalah yang terselamatkan baik di dunia mamupun di akhirat, sebagaimana Ashabul Kahfi (para pemuda Kahfi) yang menghindari kezaliman penguasa demi mempertahankan aqidah mereka dan keleluasaan beribadah kepada Allah SWT. Dalam surah ke-18 di dalam Al-Qur’an ini, Allah SWT menceritakan kisah para pemuda itu. Surah itu diberi nama Al-Kahfi sesuai dengan nama kelompok pemuda tersebut. Penamaan surah ini menjadi bukti bahwa Ashabul Kahfi mendapat perhatian besar di dalam Al-Qur’an.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok pemuda beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa AS. Mereka hidup di tengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok pemuda yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak perintah itu dan lari menjauh dari sang raja. Dikejarlah mereka untuk dibunuh. Namun, mereka selamat dari kejaran pasukan raja dengan bersembunyi di sebuah gua. 

Kisah tersebut antara lain bersumber dari ayat 10 Surah Al-Kahfi sebagai berikut:

إِذ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".

Ashabul Kahfi mencari tempat berlindung di sebuah gua demi menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan oleh pasukan Raja Diqyanus karena menolak untuk berhenti menyembah Allah SWT. Mereka berdoa agar Allah SWT senantiasa memberinya petunjuk yang lurus dalam setiap urusan yang mereka hadapi. Usaha mereka untuk bersembunyi di gua dan doa-doa mereka agar Allah senantiasa memberinya petunjuk merupakan bukti bahwa Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang gigih mempertahakan iman, yakni iman tauhid yang hanya menyembah Allah SWT. 

Dengan perlindungan Allah SWT mereka kemudian tidur selama bertahun-tahun di dalam gua itu. Kisah ini dapat kita temukan sumbernya pada ayat 11 Surah Al-Kahfi sebagai berikut:
فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

Artinya: "Maka Kami tutup telinga mereka bertahun-tahun dalam gua itu."
Allah melindungi mereka dengan membuat mereka tidak mendengar apa-apa. Dengan cara ini mereka tidur nyenyak hingga ratusan tahun. Berapa lama sebenarnya mereka tidur dalam gua itu menjadi perdebatan di antara dua kelompok dalam Ashbul Kahfi sendiri ketika telah bangun sebagaimana dapat kita lihat pada ayat 12 berikut ini: 


ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

Artinya: "Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya) untuk Kami menguji siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)".

Mereka kemudian bangun karena Allah yang membangunkannya sebagaimana sebelumnya mereka tidur karena Allah yang menidurkannya. Dengan kata lain mereka tidur selama berabad-abad itu karena memang Allah menghendaki demikian dalam rangka menyelamatkan jiwa dan iman mereka. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim; menyebut angka 309 tahun untuk menunjukkan lamanya mereka tidur dalam gua. Mereka mulai tidur di jaman pemerintahan Raja Diqyanus dan baru bangun setelah raja yang berkuasa telah berganti beberapa generasi. Masyarakat beserta sang raja pada saat itu sudah beriman kepada Allah SWT. 

Setelah mereka bangkit dan kembali pada kehidupan nyata, para pemuda itu melanjutkan ibadahnya kepada Allah SWT. Di dunia mereka mendapat perlindugan dari Allah SWT. Terlebih nanti di Hari Kiamat, mereka akan mendapat perlindungan dan pertolongan bersama-sama dengan keenam golongan orang lainnya, yakni: (1) para pemimpin yang adil, (2) orang-orang yang hatinya bergantung di masjid, (3) dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, (4) orang-orang yang diajak berbuat zina oleh wanita cantik dan kaya namun mereka menolak karena takut pada Allah, (5) orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas, dan (6) Orang-orang yang ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya. 

Mudah-mudahan dapat bermanfaat khususnya untuk diri sendiri, umumnya bagi anda sekalian , Semoga Allah SWT senantiasa menujukkan kita ke jalan yang diridhai-Nya.

=============================================================

Paling diminati :
Di Doakan Secara Khusus   Klik Disini »  ·   Pengobatan Alternatif  Penyakit Medis & Non Medis    Klik Disini »  ·  Terapi Air  Hikmah   Klik   ·   Tasbih Laduni    Klik Disini »  · Menjadi Santri Online  Al-Hikmah Nur Imani   KlikDisini »   · Berkunjung ke Al-Hikmah Nur Imani  Untuk Konsultasi Langsung.  Klik    ·  Ruwat Rumah & Kendaraan   Klik    ·  Ruqiyah Jarak Jauh   Klik  ·  Membuka Aura Diri   Klik 
  
Anda yang Mau Bergabung bersama kami dengan yang lainya Menjadi
Santriwan Santriwati secara Online di 
AL-HIKMAH NURIMANI - PUSAT PENGEMBANGAN ILMU HIKMAH
“Barang siapa yang berjalan menuju Allah, Maka Allah akan berlari menuju dia. Siapa yang berlari menuju Allah, maka Allah akan melompat dan memelukNya”
 Klik Disini  
Share on Google Plus

Pesan AL-HIKMAH NUR IMANI

“Orang yang paling pintar adalah orang yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah, dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.